12 Desember 2011

Pelacuran Terselubung Kota Yogyakarta

Judul: Fenomena Prostitusi Terselubung Pelajar di kota Yogyakarta
Latar Belakang:
Berangkat dari fakta di lapangan bahwa semakin banyak kegiatan prostitusi yang dilakukan oleh anak-anak muda terutama dikalangan pelajar membuat penulis tertarik untuk mengangkat judul penelitian”Fenomena Prostitusi Terselubung Pelajar Kota Yogyakarta.” Jika mendengar kata Yogyakarta yang akan terbayang di benak kita pertama kali mungkin bahwa Yogyakarta adalah kota pelajar dan budaya, namun ternyata dibalik itu semua kota ini masih menyimpan sejuta misteri mengenai kehidupan malamnya. Penulis ingin melihat prostitusi dari sudut pandang pelaku, yang mungkin ke depannya bisa menjadi masukan dalam proses perumusan kebijakan publik tentang permasalahan prostitusi.
Prostitusi tidak hanya melibatkan pelajar berstatus kelamin wanita, namun juga pria. Hal ini menarik untuk dikaji lebih jauh. Untuk pelajar perempuan yang menjajakan diri, orang lokal Yogyakarta sering menamainya “ciblek” yang merupakan akronim dari ”cilik-cilik betah melek”. Sedangkan untuk pelajar pria, orang lokal lebih sering menyebutnya gigolo. Target sasaran para remaja ini adalah orang yang sudah berkecukupan secara materi. Untuk ciblek mereka lebih suka mencari pria yang lebih tua dan sudah bekerja ( “om senang”), sedangkan para gigolo lebih suka mencari mangsa wanita paruh baya yang berkecukupan (mereka menyebutnya “tante girang”).
Penulis merasa hal ini fenomena pelacuran terselubung, karena berdasarkan dari data awal di lapangan, mereka tidak menjajakan diri layaknya pekerja seks komersial resmi di lokalisasi atau pinggir jalan. Mereka sekolah seperti biasa, pulang sekolah berjalan-jalan ke mall layaknya anak muda, namun tidak disangka dalam mall mereka bertransaksi untuk melakukan pelacuran. Mereka memberikan kode-kode tertentu bagi para peminat, yang tidak sembarang orang bisa mengerti kode tersebut. Selain di mall transaksi bisa berlangsung di warnet, bahkan untuk tarif short time tidak jarang si pelajar tersebut untuk main di warnet tersebut.
Penelitian ini penting, karena kita tahu bahwa sex bebas merupakan awal dari penyebaran virus-virus dan penyakit berbahaya. Hal ini adalah masalah publik (kesehatan masyarakat) yang dengan sendirinya masuk ke dalam kajian dari ilmu manajemen dan kebijakan publik. Untuk saat ini belum ada penelitian yang meneliti tentang masalah tersebut. Hal ini juga menarik mengingat sampai saat ini penulis belum menemukan peraturan daerah kota Yogyakarta yang mengatur tentang kegiatan prostitusi. Sebagai informasi tambahan bahwa kabupaten Bantul justru sudah mengeluarkan Perda nomor 5 Tahun 2007 mengenai larangan pelacuran. Penelitian ini juga bisa menjadi feedback bagi pemerintah dalam melakukan regulasi mengenai permasalahan prostitusi.
Rumusan Masalah:
Mengapa terdapat fenomena prostitusi terselubung di kalangan pelajar di kota Yogyakarta?”
Untuk meneliti masalah ini kami menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Subjek penelitian kualitatif ini adalah oknum pelajar yang menjadi pelacur secara sembunyi-sembunyi. Peneliti ingin mengetahui bagaimana mereka memandang fenomena prostitusi yang mereka lakukan. Hal apa yang membuat mereka melacurkan diri, di mana ditemukan tidak hanya pelajar berstatus ekonomi rendah yang melakukannya, namun juga pelajar berstatus ekonomi menengah. Hal ini menarik untuk dikaji, mengapa semakin banyak pelajar yang status ekonomi keluarganya menengah juga ikut menjual diri? Mungkinkah ada perubahan gaya hidup dalam kehidupan sehari-hari si pelajar sehingga mendorong dia untuk menjual diri, ataukah ada faktor-faktor lain yang menyebabkan dia melacurkan diri.
Hal ini jelas masalah bagi pemerintah kelak. Bukan hanya masalah kesehatan masyarakat, pembangunan moral dan karakter bangsa juga salah satu hal strategis yang perlu dipecahkan pemerintah. Tidak hanya itu, katakanlah bahwa pelajar masuk kategori anak-anak, dengan begitu negara juga harus terlibat untuk melindunginya. Negara mengeluarkan kebijakan dengan UU perlindungan anaknya, namun kenyataan yang ada di lapangan seolah terbalik-balik. Justru banyak anak atau pelajar yang menjual diri demi bisa menikmati gaya hidup seperti teman-temannya.
Hal ini adalah masalah yang sensitif dan unik, tidak sembarang orang bisa mendapatkan akses untuk berkomunikasi dengan para pelaku pelacuran tersebut. Key informan yang penulis dapatkan adalah dari sumber yang terpecaya. Cukup banyak informan yang penulis kenal secara baik selama ini yang juga melakukan pelacuran terselubung seperti itu, dan hal tersebut tentu sangat membantu proses penelitian. Pengambilan informasi dilakukan dimulai dari orang yang dikenal peneliti secara dekat, kemudian dilanjutkan dengan informan-informan lainnya yang disarankan oleh informan pertama.
Penarikan kesimpulan sementara dilakukan setiap data yang telah direduksi dan di paparkan peneliti berupa sebuah cerita. Kesimpulan bisa berubah seandainya ditemukan data-data baru di lapangan.
Hasil Observasi :
  1. Cerita dari sebuah Mall
Sangat menarik untuk melihat kota Yogyakarta di malam hari. Terang gemerlap lampu mulai menyinari kota Yogyakarta di waktu senja hari. Saat itu, sehabis maghrib penulis dengan teman berjalan-jalan menikmati senja di kota Yogyakarta. Kami pergi ke sebuah mall di Yogyakarta (mall galleri*). Sebut saja RD, teman penulis yang satu ini cukup jago dalam urusan wanita. Hampir setiap bulan ia berganti pasangan. Tidak pernah tahu saya berapa wanita yang pernah ditidurinya. Termasuk juga dia seringkali tidur bersama ciblek-ciblek anak sekolahan yang masih segar wajahnya. Maklumlah, dia sudah bekerja sambilan dan mendapat gaji yg cukup lumayan. Namun dia belum mau berkeluarga, masih pingin menikmati dunia katanya. Pekerjaannya pun spesial, melayani ibu-ibu rumah tangga yang jarang diberi kepuasan oleh suaminya alias menjadi brondong tante girang. Yang lebih mencengangkan, RD ini masih berstatus sebagai pelajar di sebuah SMA N di kota Yogyakarta.
Waktu penulis ajak untuk melihat-lihat mall, menjelang malam seperti ini bepergian atau hang out (istilah anak muda), tidak ada hal yang spesial bisa dinikmati. Banyak orang bergandengan tangan dengan pasangannya berpacaran dalam mall, orang makan dan lain sebagainya. Sebelumnya penulis minta ijin RD untuk ikut menginvestigasi pekerjaannya selama ini, dan RD pun setuju dengan syarat penulis tidak mengikutinya sampai hotel. Katanya, tante girang itu tidak suka kalau ditemenin dua orang, dan hal itu tidak nyaman. RD bilang, mencari tante girang itu gampang-gampang susah, harus mengerti tanda serta kode yang diberikan olehnya. Katanya, tanda bahwa seorang perempuan paruh baya termasuk tante girang adalah bila ia jalan sendirian serta memakai make up berlebih. Tidak hanya itu, katanya tante girang sering membawa belanjaan terlalu banyak sendirian, sehingga menarik para pria-pria seperti dirinya untuk membawakan barangnya. RD memang kenal baik dengan penulis, hubungan kami seperti adik dan kakak. Setelah mengobrol cukup lama sambil makan di restoran dan cocok, biasanya si tante mengajak check in ke hotel. Untuk uang tip, biasanya menurut pengakuan RD hanya diberi Rp 350.000,00 per malamnya. Harga segitu katanya sudah besar menurutnya dibandingkan ia bergabung dengan para gigolo-gigolo lain yang ditalangi germo.
Menurutnya, untuk gigolo yang ditalangi germo, justru berkeliaran pada malam hari sehingga terkadang susah mendapatkannya. Sedangkan dia biasanya beroperasi di siang hari sehabis pulang sekolah, di mana tidak hanya di mall saja jangkauannya, bahkan di pasar tradisional pun dia pernah dapat mangsa. Semua dilakukannya setelah mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian bebas. Kalau di mall X tidak ada, dia pindah ke mall Y, begitu seterusnya. Tidak menentu dapatnya, kadang sebulan empat kali dan pernah hanya sekali. Katanya, harus ada chemistry terlebih dahulu dengan si tante sebelum beranjak ke hotel. Seringkali dia ditolak oleh si tante gara-gara kurang sreg. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, dan RD belum mendapat satu mangsa pun. Sebenarnya ada beberapa “ikan” tadi, tapi terlanjur dimakan oleh pria-pria yang mungkin sudah dikoordinir germo. Wanita paruh baya yang sendirian berjalan di mall langsung dihampiri seorang lelaki yang mengajak kenalan dan bercengkerama di sebuah restoran di lantai dasar.
Kalau ditanya untuk apa dia melacurkan diri, jawabannya sangat simpel: memuaskan nafsu dan menambah uang jajan. Namun tidak bisa dipungkiri memang, RD ini sejak masih SMP memang nakalnya bukan main. Bukan nakal tawuran, minum ciu dan narkoba seperti anak remaja lainnya, namun nakal yang menjurus ke arah seksual. Tempat tinggalnya dekat dengan penulis, dan penulis juga terkadang bermain ke rumahnya untuk mengajaknya nonton bola. Ayahnya mantan tentara yang pernah berjuang di timor timur sebelum berpisah dari Indonesia sekarang menjadi preman di sebuah pasar di dekat rumah penulis, dia anak tunggal, serta ibunya pergi entah kemana. Pernah saya memergokinya sedang mengakses situs porno di laptopnya. Handphone-nya pun ternyata penuh dengan video porno.
Katanya, pekerjaannya bukan sesuatu hal yang buruk bahkan cenderung menguntungkan. Dia tidak terlalu peduli dengan penyakit yang mungkin menjangkitinya bila sering berganti pasangan. Menurutnya, asal melakukannya dengan kondom semua akan baik-baik saja. Beberapa orang temannya di sekolah pun juga diakuinya sering melakukan hal yang sama setelah pulang sekolah. Modalnya memiliki badan sedikit kekar dan gempal seperti dirinya, serta tidak canggung berkenalan dengan wanita paruh baya. Hasil dari melacur, seringkali ia gunakan untuk membeli pelacur muda atau yang sering disebut ciblek. Hal ini akan berhubungan dengan cerita selanjutnya mengenai ciblek kota Yogyakarta.
Dari hasil data awal ditemukan bahwa ternyata pelajar pria yang melacurkan diri tidak semuanya karena kesulitan ekonomi. Pelajar dengan status ekonomi sedang, terkadang melacurkan diri karena kurangnya afeksi dari orang tuanya. Kurangnya pendidikan moral dan agama sejak kecil terkadang menyebabkan seorang remaja terjerumus dalam dunia gelap. Selain itu, semakin majunya teknologi informasi sehingga remaja semakin mudah mengakses hal-hal porno, yang membuat sebagian remaja ketagihan pornografi. Di sini peran pemerintah ke depannya harus lebih banyak memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja di sekolah-sekolah serta peningkatan kapasitas serta kuantitas pembelajaran agama dan moral. Dengan demikian pelajar tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya. Selain itu pemerintah lebih mengintensifkan pemblokiran situs-situs yang memuat konten pornografi, untuk membatasi akses remaja muda untuk men-download konten pornografi.
  1. Cerita antara facebook dengan Bilik Warnet
Demi kepentingan tertentu, terkadang orang memiliki beberapa akun facebook termasuk penulis. Dalam observasi awal ini peneliti mengggunakan media jejaring sosial facebook untuk mengungkap satu fenomena. Dari cerita I di mana RD adalah seorang pecandu kegiatan seksual, penulis mendapat banyak data yang bisa diungkap lebih jauh. Banyak sekali teman sekolah maupun luar sekolah RD yang berprofesi sebagai pekerja seks terselubung. Menurut RD, di sekolah siswi tersebut tidak akan pernah menunjukkan gelagat bahwa dia seorang pelacur. Siswi tersebut belajar, bahkan sering shalat Dzuhur di mushola sekolahan, namun sepulang sekolah menjajakan diri di facebook.
Sebelumnya, ini sebuah potret nyata kehidupan sebagian pelajar kota Yogyakarta yang diamati langsung. Agar aman, peneliti menggunakan akun facebook berbeda. Di facebook, dua minggu yang lalu peneliti meng-add beberapa teman wanita yang disarankan RD, yang sekolah di sebuah SMA berbeda dengan RD. Ironisnya, sekolah wanita tersebut adalah sekolah keagamaan milik satu lembaga tertentu. Menarik juga untuk dikaji, bagaimana bisa di sekolah yang menerapkan kurikulum yang berbasis akhlak dan keagamaan, ada oknum siswinya yang melacurkan diri. Penulis berkenalan, lalu pendekatan dengan sang wanita tersebut. Sebut saja Bunga. Sebuah tips dari RD adalah agar jangan langsung mengajak untuk berkencan, namun sang wanita di dekati terlebih dahulu dengan obrolan-obrolan, lalu di akhir obrolan ungkapkan keinginan kita untuk berkencan dengan dia. Sedikit bagian obrolan akhir dari penulis dengan oknum. P=penulis, B=Bunga
P:……..” ya nemenin maen short time lah”
B:………” boleh aja, asal bayar”
P: “Berapa emangnya?”
B:” Pertama, kamu transfer dulu uang 150 ribu ke rekeningku atas nama “Si*** B****, lalu beliin pulsa 50 ribu ke no hape ku…08572***%^&… kalau udah, nanti telepon langsung ketemuan di mana.”
Karena penulis hanya iseng saja, maka penulis hanya membelikan dia pulsa 50 ribu saja, dengan berbagai alasan. Bunga mau menerimanya, dengan syarat belum mau melayani jika saya belum membayarnya penuh. Pada waktu itu hari sudah beranjak malam, pukul 8 malam tepatnya. Mungkin karena malam itu malam minggu sehingga banyak pasangan berjalan bersama di depan mall Ambarukmo Plaza. Penulis dengan oknum bertemu di tempat itu, karena mungkin terlalu ramai keadaannya, akhirnya saya mengajak bunga jalan-jalan mengelilingi kota Yogyakarta di waktu malam, dan dari situlah penulis mendapat banyak data mengenai kehidupan ciblek remaja.
Menurutnya, hal yang dilakukannya salah. Namun ia seperti terpaksa melakukannya. Bunga bukanlah anak orang kaya, bukan pula anak orang miskin. Orang tuanya bekerja sebagai seorang pegawai negeri sipil di sebuah instansi pemerintah. Waktu penulis bertanya tentang alasannya melacurkan diri jawabannya panjang sekali dan berputar-putar. Pada akhirnya, berhasil diungkap bahwa dia melacurkan diri karena ingin mendapat uang lebih, selain itu karena dia pernah dikhianati oleh kekasihnya. Uang saku sehari-harinya dirasa belum cukup untuk membeli barang-barang serta berpenampilan seperti yang dimiliki teman-temannya di sekolah. Orang tuanya tidak tahu kalau dia beberapa hari sekali melacurkan diri. Bunga pernah dikhianati oleh kekasihnya di waktu SMP, padahal hubungan mereka saat itu sudah terlalu jauh dan melewati batas norma. Seringkali dia berhubungan badan dengan kekasihnya, namun tidak disangka setelah beberapa kali melakukannya sang kekasih meninggalkan dia.
Teman-teman sekolah Bunga tidak mengetahui kalau dia melacurkan diri, dan dia berharap tidak akan pernah tahu. Maka daripada itu, bunga tidak pernah mengakomodasi teman sekolahnya untuk berkencan dengannya. Hanya teman di luar sekolahnya, itu pun dia memakai sebuah akun facebook keduanya. Jadi yang di add penulis waktu itu adalah akun yang kedua. Akomodasi layanan seksual yang ditawarkan bunga bermacam-macam, dan semua tergantung dengan uang yang dibayarkan. Paket short time (setengah jam) biasanya dilakukan di warnet. Hal ini menarik untuk dikaji lebih dalam. Warnet yang merupakan tempat publik, justru dijadikan ajang tempat prostitusi terselubung. Paket short time yang dilakukan di warnet yang berbilik tinggi dan rapat tidaklah seperti akomodasi kebanyakan pekerja seks. Dengan uang 50 ribu rupiah sebagai DP,pelanggan mendapatkan layanan yang bisa dibilang minimalis. Katanya, pelanggan hanya bisa bermain bagian atas dengan memakai baju, ciuman dan oral seks, atau menurut bahasanya disebut petting. Seandainya ingin lebih jauh lagi, pelanggan harus membayar 150 ribu rupiah dimuka, dengan catatan dia tidak melepas seluruh pakaiannya. Semua hal itu dilakukannya untuk mengantisipasi seandainya ada orang iseng atau petugas yang membuka bilik warnet. Pekerjaannya memang penuh resiko, namun dia tetap menjalaninya karena butuh uang.
Bunga juga mengakomodasi paket yang lebih memuaskan. Paket long time( semalam) juga ada. Namun, dia hanya pernah sekali melayani semalam penuh. Ketika itu katanya ada seorang pria paruh baya yang tertarik dengannya dari facebook, karena sedang butuh uang maka Bunga menuruti keinginan si om untuk tidur semalam bersama. Waktu itu katanya, dia mendapat 500 ribu rupiah. Bunga mengaku tidak teratur dan terjadwal dalam melakukan aksinya. Asal sedang mood dan membutuhkan uang, dia rela tubuhnya dijadikan obyek seksual lelaki hidung belang. Tetapi jika uang jajan masih banyak, ia mengaku malas untuk melayani pria hidung belang. Karena dia merasa melacur bukanlah jalan hidupnya. Katanya, suatu saat dia ingin menjadi seorang penulis buku yang terkenal.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Bunga seringkali pulang larut malam, terkadang menginap di warnet dan dia hanya menghubungi ortunya bahwa dirinya sedang bermain atau belajar di rumah teman. Tiba-tiba dia sadar mengapa sejak bertemu dengannya obrolan kami hanya tentang masalah pelacuran saja, akhirnya dia bertanya maksud sebenarnya penulis mengobrol tentang masalah pelacuran saja. Penulis berikan jawaban bahwa hanya ingin mencari dan mencoba-coba mencari gadis SMA yang bisa dipakai selain dirinya, karena terus terang penulis tidak tertarik dengannya. Menurutnya tidak masalah. Seandainya ada pelanggan tidak cocok dengannya, asal sudah membayar DP dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Sebagai catatan, penulis mengatakan hal tersebut karena penulis ingin mendapat data yang lebih akurat mengenai keberadaan ciblek di Yogyakarta. Pikir penulis, siapa tahu Bunga memiliki beberapa koneksi yang melakukan hal yang sama, sehingga bisa dikorek lebih dalam datanya.
Sayangnya, Bunga tidak mempunyai teman yang melakukan hal yang sama dengannya. Di perjalanan Bunga justru berbagi trik mendapat wanita ciblek seperti dirinya. Menurutnya, pelajar wanita yang melakukan hal seperti dirinya semakin banyak, di mall-mall terutama. Jika ada ABG wanita yang menongkrong di mall sendirian, kemungkinan besar dia adalah ciblek. Katanya, tidak mungkin wanita sebayanya pergi ke mall sendirian. Biasanya anak muda seperti dirinya pergi ke mall bersama pacar atau teman-temannya, bukan sendirian. Selain itu ciblek tidak hanya di mall katanya, justru banyak ciblek berkeliaran dan mangkal di tempat terbuka, namun tidak terlihat bahwa dia seorang wanita yang bisa disewa. Bunga memberi contoh seperti di alun-alun selatan, km 0 Yogyakarta(depan gedung istana kepresidenan), dan Malioboro. Seringkali para ciblek ini menggunakan kode tertentu yang menunjukkan mereka bisa disewa. Kata Bunga, biasanya dengan memegang korek api. Para ciblek ini kebanyakan tidak mau dipanggil sebagai PSK, Bunga sendiri tidak mau dikatakan bahwa dia seorang PSK.
Dari hal tersebut bisa disimpulkan bahwa gaya hidup remaja sekarang mempengaruhi seseorang untuk berbuat diluar batas koridor moral maupun agama. Bunga tidak kuat menahan tekanan struktur sosial pergaulan di sekolahnya, dimana seandainya dia tidak mengikutinya dianggap tidak gaul, dan mungkin akan dijauhi teman-temannya. Kebijakan yang dilakukan sekolah dengan melembagakan aturan-aturan serta memperkuat kapasitas serta kuantitas pembelajaran moral ternyata belum efektif untuk mengatasi permasalahan semacam ini.

Lalu menarik untuk dilihat tentang kebijakan pemerintah tentang urusan perizinan. Dengan ada fakta dilapangan bahwa banyak sekali warnet di Yogyakarta yang dijadikan ajang mesum, seharusnya ada langkah strategis ke depannya. Dari data dilapangan peneliti menemukan banyak warnet yang memiliki potensi dijadikan tempat mesum. Ironisnya, ada beberapa yang terletak di dekat kampus. Warnet Fa** net terletak di seturan, dimana didekat kampus utama UPN & YKPN. Warnet ini juga memiliki beberapa cabang yang berada di dekat kampus juga(samping kampus teknik UNY, dan dekat kampus USD Demangan Baru). Warnet Le*n net di daerah Timoho(dekat kampus APMD). Bel** net jalan Affandi( dekat UNY serta USD). Warnet-warnet yang disebutkan tadi memiliki bilik tinggi dan rapat yang seringkali dijadikan ajang mesum. Kebijakan memperketat pengaturan pendirian usaha warnet misalnya dengan melarang atau tidak memberi ijin pada warnet yang menggunakan bilik tinggi dalam kesehariannya. Lalu langkah strategis lainnya adalah bisa dengan melakukan inspeksi mendadak di warnet-warnet. Gelar razia di warnet-warnet yang terindikasi dijadikan tempat mesum.

5 komentar:

Anonim mengatakan...

Minta data cibleknya bang..
asik nih untuk buat survey tugas sosial..
niaamanis@yahoo.co.id

Anonim mengatakan...

asik nih untuk bikin survey
kirim inpoh cibleknya maz
niaamanis@yahoo.co.id

Radian Satriyo mengatakan...

minta data ciblek nya mas,,..
saya mahasiswa psikologi dr jayabaya jakarta..
radiansatriyo@gmail.com

Radian Satriyo mengatakan...

bisa minta info nya buat nyelesaiin tugas skriosi saya,,..
radiansatriyo@gmail.com

Divo Avriano mengatakan...

Ikutan donk...